Senin, 19 Januari 2009

PERANAN PSIKOLOGI BELAJAR DALAM KEGIATAN EVALUASI BELAJAR

A. Pengertian Evaluasi Banyak diantara pendapat yang menjelaskan makna evaluasi, diantaranya : 1. Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. 2. Menurut Kourilski, the act of determining the degree to which individual or group possesses a certain attribute (evaluasi adalah tindakan tentang penetapan derajat penguasaan atribut tertentu oleh individu atau kelompok). 3. Mehrens dan Lehmann mengartikan evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan. Sebenarnya ada tiga istilah yang saling berkaitan dan terkadang sering dikacaukan pengertiannya, yaitu : evaluasi, pengukuran (measurement) dan assessement. Untuk definisi evaluasi telah dijabarkan diatas, assessement adalah proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Sedangkan pengukuran (meansurement) berkenaan dengan pengumpulan data deskriptif tentang peran siswa atau tingkah laku siswa dan hubungannya dengan standar prestasi atau norma. B. Tujuan dan Fungsi Evaluasi Tujuan evaluasi dapat dilihat dari dua segi, tujuan umum dan tujuan khusus. L. Pasaribu dan Simanjuntak, menegaskan bahwa : 1. Tujuan umum dari evaluasi adalah : · Mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan murid dalam mencapai tujuan yang diharapkan. · Memungkinkan pendidik / guru menilai aktivitas atau pengalaman yang didapat oleh siswa. · Menilai metode mengajar yang dipergunakan. 2. Tujuan khusus dari evaluasi belajar adalah : · Merangsang kegiatan siswa. · Menentukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan. · Memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan dan bakat siswa yang bersangkutan. · Memperoleh bahan laporan tentang perkembangan siswa yang diperlakukan orang tua atau lembaga pendidikan. · Memperbaiki mutu pelajaran atau cara belajar dan metode mengajar. Dalam kaitannya dengan kegiatan belajar mengajar, evaluasi mempunyai fungsi yang sangat penting, yaitu : 1. Untuk memberikan umpan balik (feedback) kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar, serta mengdakan perbaikan program bagi siswa. 2. Untuk memberikan angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil belajar dari setiap murid. Antara lain digunakan dalam rangka pemberian laporan kemajuan belajar murid kepada orang tua, penentuan kenaikan kelas serta penentuan lulus tidaknya seorang murid. 3. Untuk menentukan murid di dalam situasi belajar mengajar yang tepat, sesuai dengan tingkat kemampuan (dan karakteristik lainnya) yang dimiliki oleh murid. 4. Untuk mengenal latar belakang (psikologi, pisik dan lingkungan) murid yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar yang timbul, sebagai data bagi pelayanan bimbingan konseling (BK) oleh para konselor sekolah atau guru pembimbing lainnya. 5. Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan. C. Jenis-Jenis Evaluasi Evaluasi dapat dibagi menjadi 4 jenis, yaitu : 1. Evaluasi Formatif : a. Fungsi : untuk memperbaiki proses belajar mengajar ke arah yang lebih baik, atau memperbaiki program satuan pelajaran yang telah digunakan. b. Tujuan : untuk mengetahui sampai mana penguasaan siswa tentang bahan yang telah diajarkan dalam suatu program satuan pelajaran. c. Aspek-aspek yang dinilai : yang berkenaan dengan hasil kemajuan belajar murid, meliputi : pengetahuan, ketrampilan, sikap dan penguasaan terhadap bahan pelajaran yang telah disajikan. d. Waktu pelaksanaan : setiap akhir pelaksanaan satuan program belajar mengajar, dengan kata lain adalah ulangan harian. 2. Evaluasi Sumatif : a. Fungsi : untuk menentukan angka atau nilai murid setelah mengikuti program pengajaran dalam satu catur wulan, semester, akhir tahun atau akhir dari satu program bahan pengajaran dari suatu unit pendidikan. Di samping itu untuk memperbaiki situasi proses belajar mengajar ke arah yang lebih baik dan untuk kepentingan penilaian selanjutnya, serta sebagai bahan penentu naik ayau tidaknya seorang siswa ke tingkat selanjutnya yang lebih tinggi. b. Tujuan : untuk mengetahui taraf hasil belajar yang dicapai oleh murid setalah menyelesaikan program bahan pengajaran dalam satu catur wulan, semester, akhir tahun atau akhir suatu program bahan pengajaran pada suatu unit pendidikan tertentu. c. Aspek-aspek yang dinilai : ialah kemampuan belajar, meliputi : pengetahuan, ketrampilan, sikap dan penguasaan muirid tentang materi pelajaran yang sudah diberikan. d. Waktu pelaksanaan : akhir periode pelaksaan program pengajaran, seperti akhir catur wulan, semester atau akhir tahun ajaran. 3. Evaluasi Placement (Penempatan) a. Fungsi : untuk mengetahui keadaan anak termasuk keadaan seluruh pribadinya, agar anak tersebut dapat ditempatkan pada posisinya yang tepat. b. Tujuan : untuk menempatkan anak didik pada kedudukan yang sebenarnya berdasarkan bakat, minat, kemampuan, kesanggupan serta keadaan-keadaan lainnya, sehingga anak tidak mangalami hambatan-hambatan dalam mengikuti setiap program/ bahan yang disajikan oleh guru. c. Aspek-aspek yang dinilai : meliputi, keadaan fisik, psikis, bakat, kemampuan / pengetahuan, ketrampilan, sikap dan aspek lainnya yang dianggap perlu bagi kepentingan pendidikan anak selanjutnya. d. Waktu pelaksanaan : sebaiknya dilaksanakan sebelum anak mengikuti proses belajar mengajar yang permulaan. Atau anak tersebut baru akan mengikuti pendidikan di suatu tingkat tertentu. 4. Evaluasi Diagnostik a. Fungsi : untuk mengetahui masalah-masalah apa yang diderita atau yang mengganggu anak didik, sehingga ia mengalami kesulitan, hambatan atau gangguan ketika mengikuti programtertentu. Dan bagaimana usaha untuk menyelesaikannya. b. Tujuan : untuk mengatasi atau membantu pemecahan kesulitan atau hamabatan yang dialami anak didik waktu mengikuti kegiatan belajar mengajar pada suatu bidang studi atau keseluruhan program pengajaran. c. Aspek-aspek yang dinilai : hasil belajar, latar belakang kehidupan keluaraga, keadaan lingkungan keluaraga, dll. d. Waktu pelaksaan : dapat dilaksanakan setiap saat sesuai dengan kebutuhan. Muhibbin Syah, menambahinya dengan satu jenis, yaitu : 1. Pre-test a. Tujuan : untuk mengidentifikasi taraf pengetahuan siswa mengenai bahan yang akan disajikan. b. Waktu pelaksanaan : dilakukan secara rutin oleh guru, pada waktu setiap akan memulai penyajian materi baru. Berlangsung secara singkat dan sering tidak memerlukan instrumen tertulis. 2. Post-test a. Tujuan : untuk mengetahui taraf penguasaan siswa atas materi yang telah diajarkan. b. Waktu pelaksaan : setiap akhir penyajian materi, juga berlangsung secara singkat dan cukup dengan menggunakan instrumen sederhana yang berisi item-iten yang jumlahnya sangat terbatas. D. Teknik Evaluasi Dalam pelaksanaannya, evaluasi dapat ditempuh melalui dua cara, yaitu : teknik tes dan teknik non tes. 1. Teknik tes Teknik tes dapat berbentuk : § Tes tertulis, yaitu tes yang dilakukan secara tertulis. § Tes lisan, yaitu tes secara lisan (face to face). § Tes perbuatan, yaitu tes yang dilakukan dengan praktek. Baik tes tulis, tes lisan dan tes perbuatan merupakan tes yang digunakan oleh seorang guru untuk mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta). Akan tetapi, karena semakin membengkaknya jumlah siswa di sekolah-sekolah, tes lisan dan tes perbuatan saat ini semakin jarang digunakan. Alasan lain mengapa tes lisan khususnya kurang mendapat perhatian ialah karena pelaksanaannya yang dilakukan secara berhadapan langsung. Cara ini dianggap dapat mendorong para penguji untuk bersikap kurang terbuka terhadap peserta didik tertentu. Dampak negative yang terkadang muncul di dalam tes lisan adalah sikap dan perlakuan para penguji yang subjektif dan kurang adil. Sehingga soal yang diajukanpun tingkat kesulitannya berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. 2. Teknik Non Tes a. Teknik Kuesioner/Inventory (angket) Penggunaan teknik kuesioner dalam riset-riset pendidikan relative lebih menonjol apabila dibandingkan dengan pengguanaan teknik-teknik lainnya. Dengan metode ini, kebih banyak sampel yang bisa dijangkau dan unit cost setiap responden lebih murah. Contoh data yang dapat dikumpulkan atau dihimpun dengan metode ini adalah : 1) Karakteristik pribadi siswa, seperti jenis kelamin, usia dan lain sebagainya; 2) Latar belakang siswa seperti keluarga, pendidikan dan lain sebagainya; 3) Perhatian, minat dan bakat siswa terhadap mata pelajaran tertentu; 4) Faktor-faktor pendorong dan penghambat siswa dalam mengikuti pelajaran tertentu; 5) Aplikasi mata pelajaran tertentu dalam kehidupan sehari-hari, seperti wudhu, shalat, puasa, zakat dan lain-lain dalam mata pelajaran agama islam atau fiqih; 6) Pengaruh aplikasi mata pelajaran tertentu terhadap perilaku individu siswa dalam kehidupan sehari-hari. Selain seperti yang telah disebutkan di atas, implementasi metode dalam pembelajaran agama islam, misalnya guru PAI mengumpulkan data siswa melalui angket tentang kesulitan belajar siswa dalam mata pelajaran pendidikan agama islam. Contoh implementasi lain misalnya guru memberikan angket kepada siswa tentang pembelajaran yang telah dilakukannya. Sisi mana yang perlu ditingkatkan dan yang perlu diperbaiki dalam perspektif siswa. b. Teknik Wawancara Pada dasarnya, wawancara kepada siswa adalah kuesioner yang disajikan secara verbal kepada siswa. Jika wawancara itu dilaksanakan secara baik, maka dapat diungkapkan secara mendalam daerah minat yang spesifik dan sensitive, yang tidak dapat diungkapkan melalui kuesioner tertulis. Memang kesulitan teknik ini adalah jika siswa diwawancara satu orang demi seorang karena memerlukan banyak waktu. Itu sebabnya, diadakan wawancara dengan sampel yang bervaliditas tertentu. c. Teknik Observasi Observasi dalam hal ini dapat diartikan sebagai jenis tes mengenai peristriwa, tingkah laku atau fenomena yang lain. Dengan pengamatan langsung. Namun, observasi harus dibedakan dari eksperimen, karena eksperimen pada umumnya dipandang sebagai salah satu cara observasi. E. Peranan Psikologi Belajar dalam Kegiatan Evaluasi Psikologi belajar adalah sebuah frase yang terdiri dari dua suku kata, yaitu psikologi dan belajar. Psikologi berasal dari bahasa yunani, yaitu psyche yang berareti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah, psikologi bekajar adalah ilmu tentang jiwa atau dengan kata lain ilmu jiwa. Sedangkan makna luasnya yaitu sebuah disiplin psikologi yang berisi teori-teori psikologi mengenai belajar, terutama mengupas bagaimana cara individu belajar, melakukan pembelajaran. Dari definisi diatas, dapat diuraikan bahwa psikologi belajar pada dasarnya adalah membicarakan aspek-aspek psikologis yang mempengaruhi proses dan hasil belajar, sedangkan evaluasi belajar adalah suatu aktivitas untuk mengetahui berhasil tidaknya tujuan belajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa psikologi belajar akan mendasari segala kegiatan yang menyangkut evaluasi belajar. Istilah kegiatan di sini mencakup hal-hal sejak dari : · Persiapan, pelaksanaan sampai pada follow up. · Penetapan tujuan · Pemilihan jenis evaluasi. · Pemilihan alat yang digunakan dalam evaluasi. · Penyusunan materi atau isi evaluasi itu sendiri. Seorang evaluator yang memahami psikologi belajar akan senantiasa memperhitungkan aspek-aspek psikologis anak yang akan di evaluir sejak dari persiapan sampai pada pelaksanaan dan tidak lanjutnya. Misalnya : · Kepada anak umur berapa evaluasi diberikan. · Kepada anak yang bermental bagaimana. · Kepada anak kelas berapa. · Kepada anak yang berminat dalam bidang apa. · Kepada anak yang latar belakang keluarganya bagaimana, dll. Hal-hal tersebut harus diperhitungkan dalam rangka kegiatan evaluasi. Selanjutnya dengan follow up-nya pun aspek-aspek psikologis tersebut harus tetap diperhitungkan. Misalnya : “Jika anak ternyata tidak berhasil dalam mengikuti evaluasi, kita tidak akan secepatnya mengatakan bahwa si A adalah tolol, akan tetapi perlu dicari faktor-faktor penyebab sehingga anak tersebut gagal dalam mengikuti evaluasi. Mungkin karena materi / bobot evaluasinya tidak sesuai, atau juga kesehatan anak tersebut sedang terganggu dan sebagainya”. Sebaliknya seorang evaluator yang tidak memahami pentingnya psikologi belajar, maka apa yang dilakukan dalam mengadakan evaluasi biasanya hanya bersandar pada keinginan semata-mata, tanpa memperhitungkan pada kemampuan anak maupun aspek-aspek lain yang semestinya diperhitungkan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa dengan psikologi belajar kita akan dapat memiliki dan memilih menyusun evaluasi secara tepat, memilih dan menyusun program-program belajar secara tepat, dapat memperhitungkan kemungkinan faktor-faktor penghambat dan penunjang anak, serta dapat membantu membimbing dan mengatasi segala kesulitan yang dihadapi anak dalam belajar. Pada gilirannya kita akan dapat mengarahkan pertimbangan dan perkembangan anak secara wajar dalam rangka mencapai tujuan hidup yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA 1. Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta, 1991. 2. Djamarah, Drs. Syaiful Bahri. Psikologi Belajar. (Jakarta : PT. Rineka Cipta. 2003. 3. Hamalik, Prof Dr. Oemar. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Penerbit Buku Aksara. 2008. 4. Purwanto, Drs. M. Ngalim, MP. Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran. Bandung : Rosdakarya. 2006. 5. Syah, Muhibbin M. Ed. Psikologi Belajar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada 6. Tohirin, Drs., Ms. M. Pd. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2006.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

ayo, akrab kan diri mu.........